Thursday, September 04, 2008

10 - Master

barusan saya melihat profil friendster teman kuliah saya di NTU. mungkin lebih tepatnya dia adik kelas saya. karena pada saat saya dulu masuk S2, sementara dia baru masuk kuliah S1. Dan ternyata, empat tahun kemudian, yaitu sekarang ini, dia sudah lulus S1 nya dan langsung mengambil program Master+PhD di NUS-MIT selama kurang lebih 3 tahun. Asumsinya, bila sekarang dia umurnya 21, berarti dia akan menjadi seorang Doktor pada usia 24 tahun.

" Agung, gung... emang edan kau ini !! "

Hebat, anak sekarang memang hebat-hebat. Kalau saya sedikit melihat kebelakang. Dulu saya sering merasa sudah melakukan hal yang paling maksimal, karena bisa meraih gelar Master di usia 23 tahun, dan di luar negeri, dan bukan sembarang universitas luar negeri. Namun, harus disadari, bahwa itu semua belum apa-apa dibanding prestasi anak-anak muda sekarang. Mungkin yang saya maksud prestasi di sini adalah dalam dunia akademik. I don't give a damn for fast track career such as singing or acting.

" Kalau sudah Doktor, mau ngapain han ? "

Itu yang sering saya tanyakan kepada diri saya sendiri setelah saya meraih Master saya, dua tahun yang lalu. Jadi engineer ? Peneliti ? dosen ? atau pengusaha ? Yang pasti di dalam pikiran, banyak hal-hal besar bermunculan. tapi setelah terjun dalam dunia sebenarnya, semuanya pasti berbeda. Muncul tantangan dan juga muncul hambatan. Bagaimanapun juga, ilmu tidak ada matinya. ilmu tidak bisa dibayar dengan gaji. walau, gaji memang perlu untuk hidup.

tapi dengan persenjataan dan strategi ilmu yang lebih matang, maka perang hidup yang dihadapi semakin mudah untuk dimenangkan.

No comments: